GURU SEKOLAH VS GURU ONLINE
Sekarang, tambahan lagi, peran guru di kelas kian diredusir oleh bimbingan belajar (bimbel) online. Sebelumnya, bimbel diikuti siswa yang merasa tak cukup dengan pelajaran di kelas. Untuk persiapan mengikuti ujian nasional (UN), siswa biasanya mengikuti bimbel. Wujud bimbel tak beda dengan kelas di sekolah, hanya materi belajarnya lebih fokus menyelesaikan soal-soal yang kira-kira bakal diujikan.
Bimbel fisik kini digantikan bimbel online. Pemainnya antara lain Quipper, Zenius Education, Ruang Guru, Prime Mobile, dan banyak lagi. Aplikasi ini menyediakan video tutorial materi-materi pelajaran dari SD hingga SMA. Untuk mengaksesnya, siswa diminta berlangganan, entah sebulan hingga setahun. Ruang kelas fisik terdisrupsi ruang kelas maya. Apa dampak dari perubahan wujud ruang kelas ini?
Siswa zaman now memang kian dimudahkan menyelesaikan persoalan materi pelajaran. Bila ada soal yang tak dimengerti, tinggal akses video tutorial dari handphone. Namun, efeknya, sekolah kemudian kehilangan peran sebagai tempat mendidik siswa. Sebab, ruang maya tak menyediakan interaksi emosional antara guru dan murid. Di jagat virtual, peran pendidikan seolah hanya tempat menyelesaikan soal matematika atau fisika yang sulit. Apa hanya sebatas itu peran guru zaman now?
Di sini kita kembali ke pesan Presiden Jokowi pada peringatan Hari Guru kemarin. Katanya, guru diperlukan untuk membentuk karakter anak bangsa dengan budi pekerti, nilai-nilai toleransi dan kebaikan. Bisakah guru-guru virtual di aplikasi Android atau iPhone menyediakan itu?
Jadi guru sekarang memang lebih berat. Jika tak adaptif dengan perubahan zaman, guru akan tergilas oleh disrupsi teknologi. Guru kini dituntut lebih kreatif agar mata pelajaran yang diajarkannya menarik siswa. Namun, di saat bersamaan, guru juga dihadapkan pada persoalan kesejahteraan. Kita masih ingat, Oktober lalu puluhan guru honorer berdemo di depan Istana Negara menuntut bertemu Presiden Jokowi, mempertanyakan nasib mereka yang tak kunjung diangkat jadi PNS. Jika nasib guru masih terkatung-katung, bagaimana mereka diharapkan bisa bersaing dengan kecepatan perkembangan teknologi?
Lalu, utamanya, saat guru digital merajalela di aplikasi handphone, produk pendidikan macam apa yang akan dihasilkannya? Siswa yang hanya mampu menyelesaikan soal matematika di UN atau siswa yang punya karakter dan empati sosial?
Jadi guru sekarang memang lebih berat. Jika tak adaptif dengan perubahan zaman, guru akan tergilas oleh disrupsi teknologi. Guru kini dituntut lebih kreatif agar mata pelajaran yang diajarkannya menarik siswa. Namun, di saat bersamaan, guru juga dihadapkan pada persoalan kesejahteraan. Kita masih ingat, Oktober lalu puluhan guru honorer berdemo di depan Istana Negara menuntut bertemu Presiden Jokowi, mempertanyakan nasib mereka yang tak kunjung diangkat jadi PNS. Jika nasib guru masih terkatung-katung, bagaimana mereka diharapkan bisa bersaing dengan kecepatan perkembangan teknologi?
Luaaar biaasaa
BalasHapusSaya mengomen artikel anda
BalasHapusDan sekarang saya butuh darah.....
Saya telah lelah memberikan komen untuk artikel anda
BalasHapusDan sekarang saya butuh darah....
Nice sangat mendidik
BalasHapusNice👍
BalasHapusNtaps
BalasHapusMantap👍👍
BalasHapus